Peringatan Gus Firjaun “Jangan Dzalim”

waktu baca 2 menit
Sabtu, 14 Mar 2026 19:08 64 salman

 

​JEMBER,nusabarong.com  – Teras rumah dinas Wakil Bupati Jember di Kebonsari mendadak senyap saat KH MB Firjaun Barlaman (Gus Firjaun) melontarkan peringatan keras di tengah khidmatnya suasana Ramadan. Di hadapan Dr. Djoko Susanto (DJOS), sang petahana yang kini tengah berjuang melawan arus maladminstrasi, Gus Firjaun memberikan sebuah pesan moral yang memekakkan telinga para pemangku kebijakan di Jember: “Jangan berbuat dholim.”

​Kontras Nasib di Kursi yang Sama
​Ada sebuah ironi yang diletakkan Gus Firjaun di atas meja diskusi malam itu. Sebagai mantan Wakil Bupati yang pernah duduk di posisi yang sama dengan DJOS, ia melakukan refleksi yang menohok.
​”Nasib saya mungkin lebih baik (dalam konteks situasi pemerintahan), meski jabatannya sama-sama Wakil Bupati. Jabatan boleh sama, tapi nasib bisa berbeda,” seloroh Gus Firjaun. Ungkapan ini menjadi sindiran halus namun tajam terhadap realitas politik hari ini, di mana DJOS harus menghadapi “tembok” monopoli kekuasaan yang lebih tebal dan praktik administrasi yang diduga menyimpang di bawah kepemimpinan Bupati Jember.

​Jember: Rukun atau Sekadar “Maju” di Atas Kertas?
​Gus Firjaun menekankan bahwa target akhir dari kepemimpinan bukanlah sekadar angka-angka pertumbuhan, melainkan kerukunan dan kemajuan yang dirasakan merata oleh semua pihak. “Jember harus rukun, baik, dan maju semua,” tegasnya.
​Pernyataan ini seolah menjadi antitesis terhadap gaya kepemimpinan sentralistik yang sedang terjadi. Bagi Gus Firjaun dan DJOS, kemajuan Jember tidak akan pernah tercapai jika dibangun di atas landasan kedzaliman administratif atau pengabaian terhadap peran mitra kerja yang sah secara konstitusional.

​Ijtihad Hukum Sebagai Bentuk Kehambaan
​Merespons pesan Gus Firjaun, Djoko Susanto menegaskan bahwa langkah hukum yang ia tempuh saat ini—termasuk laporan ke Ombudsman—adalah bentuk pembuktian kehambaan-nya kepada Allah SWT. Bagi DJOS, mendiamkan maladminstrasi adalah bentuk pembiaran terhadap kedzaliman itu sendiri.
​”Melawan kesewenang-wenangan prosedur adalah cara saya menjaga amanah rakyat Jember. Jika saya diam, maka saya mengkhianati mandat langit dan mandat rakyat,” ungkap doktor hukum tersebut dengan nada tenang namun tegas.

​Menanti “Gol” Keadilan
​Malam itu, Jember mengirimkan sinyal kuat bahwa “koalisi moral” antara mantan dan petahana Wakil Bupati telah terbentuk.
​Pesan Gus Firjaun tentang “menit-menit finalti” Ramadan menjadi penutup yang dramatis. Bahwa bagi siapapun yang memegang kuasa, Ramadan adalah kesempatan untuk bertaubat dari kedzaliman sebelum peluit akhir dibunyikan. Di Jember, publik kini menanti: apakah keadilan akan mencetak “gol” di akhir laga, ataukah kedzaliman administratif akan terus dibiarkan memonopoli nasib jutaan rakyat?

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA